1. Home
  2. /
  3. Artikel
  4. /
  5. Teladan Keluarga Nabi Ibrahim...

Teladan Keluarga Nabi Ibrahim – Inspirasi Membangun Keluarga Harmonis

Jun 14, 2022

Oleh : Ridwan, S.Pd., M.Pd

Pernikahan Ibrahim dengan Sarah lama belum dikaruniai putra, dengan besar hati Sarah meminta Ibrahim untuk menikah dengan Hajar, budak yang di hadiakan seorang raja kepada Sarah. Pernikahan Ibrahim dengan Hajar untuk meneruskan keturunan dan perjuangan Ibrahim. Dari pernikahan Ibrahim dengan Hajar lahirlah Ismail, tiga belas tahun kemudian lahirlah Ishaq hasil pernikahan dengan Sarah. Dari keturunan Ibrahim ini lahirlah para nabi, diantara 25 nabi, 18 nabi dari keturunan Ibrahim sehingga di juluki abul anbiya’

اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىٓ اٰدَمَ وَنُوْحًا وَّاٰلَ اِبْرٰهِيْمَ وَاٰلَ عِمْرٰنَ عَلَى الْعٰلَمِيْنَۙ

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing)” (Qs. Ali Imron 33)

Ayat tersebut diatas Allah menyebut Adam dan Nuh sebagai nabi dan rasul yang pertama, sedangkan Ibrahim dan Imran penyebutannya di sertakan keluaganya. Allah memilih dan memulyakan Adam sebagai manusia pertama yang diciptakan dengan tanganNya sendiri, ditiupkan ruhNya kepadanya dan meminta malaikat sujud sebagai tanda ketundukan terjadap perintah Allah, mengajarkan nama segala seduatu, menempatkanya di Surga kemudian menurunksnnya dari surga. Alah memilih Nuh sebgai rasul yang pertama diutus kepada penduduk bumi ini, mempunyai tugas membersikan kemusyrikan yang mulai tumbuh di tengah ummatnya. Siang malang Nuh menyeru pada ummatnya, namun menambah lari dari kebenaran, maka Allahpun menenggelamkan mereka. Allah memilih keluarga Ibrahim, diantara keluarganya adalah Nabi Muhammad, manusia paling mulia, penutup para nabi. Juga memilih keluarga Imron (walaupun bukan nab)i ayah Maryam binti Imron, ibu nabi Isa alaihi salam, tafsir Ibnu Katsir. Ada hikmah tersendiri terhadap pengkaderan generasi selanjutnya,

Menyiapkan Kader

Ibrahim menyiapkan dan membangun kader di mulai dari keluarganya sendiri
قَدۡ كَانَتۡ لَـكُمۡ اُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ فِىۡۤ اِبۡرٰهِيۡمَ وَالَّذِيۡنَ مَعَهٗ‌ۚ

“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya” (QS. Mumtahanah 4)
Pola yang fibangun oleh Nabi Ibrahim dalam mewujudka keluarga yang harmonis adalah

  • Membangun Visi Dan Misi

Membangun Visi dan Misi dalam keluarga sangat penting untuk menentukan arah hendak kemana keluarga akan berlabuh. Tentunya bukan visi dunia semata. Visi akhirat, ketaatan dan keikhlasan di bangun Ibrahim menjadikan istrinya Hajar, Sarah dan putra-putranya taat dan ikhlas dalam melaksanakan perintah Allah. Walaupun perintah yang berat sekalipun.
Nah, apa yang kita bangun untuk keluarga dan di bawa kemana anak dan istri kita?, bagaimana mendidik anak dan istri agar selamat? Maka yang pertama adalah jaga diri dsn keluarga dari api neraka (QS. Attahrim 6). Kedua jadikan rumah sebagai surga keluarga. Ketiga sebuah keluarga mempunyai visi jauh ke depan melewati batas dan ruang yaitu cita-cita masuk surga bersama keluarga. Begitu pentingnya menyusun visi dan misi keluarga Al Quran sebagai petunjukknya.

اُدۡخُلُوۡهَا بِسَلٰمٍ اٰمِنِيۡنَ
“Masukklah ke dalamnya dengan sejahtera dan aman” (QS. Al Hijr 46)

  • Tawakkal Kepada Allah

Ketundukan dan percaya akan pertolongan Allsh tergambar ketika Ibrahim menempatkan Hajar dan Ismail di tempat yang tandus, (QS. Ibrahim 37). Tidak ada kekhawatiran pada Hajar karena Ibrahim meninggalkan keluarganya atas perintah Allah, ketika air dan kurma yang di siapkan telah habis Hajar berlari dari bukit Shofa dan Marwa sebanyak 7 kali untuk melihat barangkali di lembah antara bukit Shofa dan Marwa ada air. Karena tawakkal Allah memberikan perlolongan melalu malaikat yang mengepakkan sayapnya di tempat Ismail di rebahkan, munculah sumur zam-zam. Sampai sekarang atidak surut walaupun telah diambil milyatan liter. Kesabaran dan ketaatan Sarah Allah memberikan putra yaitu Ishaq, 13 tahun setelah kelahiran Ismail.

  • Selalu Mendoakan

Ibrahim senatiasa memohon kepada Allah untuk keluarga dan anak keturunannya menjadi anak yang sholih. Doa adalah cermin hati yang merefleksikan kasih sayang. Semakin bertambah rasa cinta antara kedua orang tua dan anak semakin banyak pula doa yang dihaturkan. Bukti cintanya Ibrahim kepada anak dan keturunannya doa yang dipanjatkan bertebaran di dalam Al-Qur’an

  • Membiasakan Komunikasi

Walaupun tugas dakwah di Mesir jauh dari Makkah tempat keluarganya berdiam tetap berkomunikasi dengan dengan baik. Membangun komunikasi yang baik dalam keluarga merupkan salah satu cara mencapai kebahagiaan dalam berkeluarga. Dalam psikologi keluarga ada sebuah teori yang disebut komunikasi asertif yaitu kemampuan komunikasi secra langsung terkait apa yang dirasakan tanpa meremehkan dan membuat lawan bicara sakit. Komunikasi asertif penting dengan anggota keluarga untuk menjaga hubungan keluarga tetap hangat, romantis dan penuh dengan cinta.tidak menjadikan anak “kapok” curhat pada orang tua.

Inilah yang dilakukan Nabi Ibrahim, ketika mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih anaknya. Ismail kecil menjawab dengan luar biasa. “Wahai ayahku, lakanakan apa yang diperintahkan , insya Allah aku termasuk oarng yang sabar” (QS. Asshaffat 102). Membangun pola komunikasi yang baik pada persoalan yang kecil maupun persoalan yang berat penting sekali untuk menjaga hubungan keharmonisan keluarga.

  • Ketahanan Hidup

Tidak cukup hanya dengan ahlak yang baik, knowladge dan sklill untuk mewudkan kesuksesan anak, juga harus di didik dengan kemampuan mengahadapi tantangan kehidupan (adversity). Ismail kecil sudah terbiasa dengan kemandirian dan sulitnya kehidupan sehingga ketika dewasa siap menghadapi kerasnya kehidupan. Ibrahim melibatkan Ismail dalam membangun ka’bah, ketika ka’bah agak tinggi Ibahim menginjakkan di batu dan Ismail menyodorkan batu kepada Ibrahim sampai selesai dengan melantunkan doa (QS. Al Baqoroh :127)

رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّا ‌ؕ اِنَّكَ اَنۡتَ السَّمِيۡعُ الۡعَلِيۡمُ

Mendidik kemandirian dan ketahanan menghadapi kehidupan penting sekali pada anak-anak kita, agar suatu saat menghadapi kondisi yang kurang bersahabat siap menghadapinya.